PP Pemuda Muhammadiyah: Politik Harus Jadi Ruang Ekspresi Pemikiran, Bukan Perasaan - INDONESIA One

Jumat, 05 April 2019

PP Pemuda Muhammadiyah: Politik Harus Jadi Ruang Ekspresi Pemikiran, Bukan Perasaan

 PP Pemuda Muhammadiyah: Politik Harus Jadi Ruang Ekspresi Pemikiran, Bukan Perasaan

 PP Pemuda Muhammadiyah: Politik Harus Jadi Ruang Ekspresi Pemikiran, Bukan Perasaan

INDONESIAOne.ID ■ Sekjen PP Pemuda Muhammadiyah Dzul Fikar Ahmad menilai isu politisasi agama saat ini memang tengah hangat. Namun ia berharap elemen masyarakat bisa berhati-hati terhadap kondisi ini.

Dzul mengemukakan hal itu dalam diskusi bertema "Pilpres dan Politisasi Simbol Agama", di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (4/4/2019).

"Sebenarnya politik harus jadi ekspresi pemikiran, tidak boleh dibawa jadi ekspresi perasaan. Karena dibawa ke ekspresi pemikiran yang lahir adalah narasi dan gagasan. Kalau dibawa ke ruang emosi justru akan melahirkan emosi," kata Dzul.

Menurutnya, ruang politik harus jadi ruang ekspresi pemikiran, bukan perasaan. "Kalau jadi ruang perasaan, politik tidak beda dengan yang digambarkan dalam film Dilan," katanya.

Setelah reformasi, lanjut Dzul, seharusnya politik tumbuh jadi peradaban, lahir dari pemikiran. Yang membuat kenapa simbolisasi agama menjadi sedemikian marak, kata Dzul, karena ruang politik kita digiring ke ekspresi perasaan.

"Kenapa politik penting dibawa ke ruang ekspresi pemikiran, supaya politik betul-betul tujuan akhirnya pada kemanusiaan, sehingga kita bisa menekan pragmatisme dalam politik. Bahwa di dunia manapun, peradaban yang maju akan selalu menjajah peradaban yang lemah. Kita berharap politik kita kearah peradaban maju," tuturnya.

Seperti diketahui, dalam Pilpres 2019 diwarnai maraknya isu politisasi agama. Jauh sebelumnya, isu ini pun pernah muncul saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta, lalu diikuti oleh sejumlah pemilu di daerah lainnya.

BERITA LAINNYA

BERITA TERBARU

© Copyright 2017 INDONESIA One | All Right Reserved