Alvin Lee: Jika Maskapai Asing Masuk RI, Jokowi Dinilai Langgar Undang-undang - INDONESIA One

Minggu, 09 Juni 2019

Alvin Lee: Jika Maskapai Asing Masuk RI, Jokowi Dinilai Langgar Undang-undang

Alvin Lee: Jika Maskapai Asing Masuk RI, Jokowi Dinilai Langgar Undang-undang

Alvin Lee: Jika Maskapai Asing Masuk RI, Jokowi Langgar Undang-undang

INDONESIAOne.ID ■ Usulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi kesempatan masuknya maskapai asing ke Indonesia dianggap melanggar azas cabotage (kedaulatan negara) dan UU Nomor 1 Tahun 2009. Solusi yang ditawarkan Jokowi itu untuk menurunkan harga tarif pesawat yang masih kemahalan.

Pengamat penerbangan, Alvin Lee, menuturkan, selama 10 tahun industri penerbangan kurang bergairah. Hal itu bisa dilihat dari tidak adanya maskapai asing baru yang ikut bermain di moda transportasi udara Indonesia.

“Kalau pasar transportasi udara Indonesia sedemikian menguntungkan dan atraktif, tentunya dalam 10 tahun terakhir sudah masuk banyak pemain baru dengan pola seperti Indonesia Air Asia. Faktanya tidak ada pendatang baru sedangkan pemain lama berguguran,” kata Alvin Lee, dikutip dari Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (7/6/2019).

Alvin menjelaskan, sesuai azas cabotage dan UU 1/ 2009 tentang Penerbangan, kepemilikan saham asing dalam perusahaan yang bergerak dalam bisnis angkutan udara adalah maksimal 49 persen. Dia mencontohkan maskapai Air Asia, dan hanya boleh melayani rute domestik.

“Tidak ada satu negara pun di dunia yang mengizinkan maskapai milik asing untuk melayani rute domestik negaranya. Tidak sepatutnya pernyataan itu diungkapkan oleh Presiden Jokowi. Menunjukkan beliau tidak mencari informasi yang komprehensif tentang suatu permasalahan, hanya mendengarkan beberapa orang saja atau bahkan hanya mendengarkan apa yang ingin didengar,” papar Alvin.

“Sebagai seorang pengusaha, Pak Jokowi dapat dengan mudah gunakan logika mengapa saat ini terjadi penyusutan pemain di industri transportasi udara. Banyak yang berguguran, hanya tersisa Garuda Group, Lion Group dan Indonesia Air Asia untuk pelayanan rute nasional. Jika beliau jeli, masih banyak Angkutan Udara Niaga Berjadwal dalam skala daerah/regional,” sambung Alvin.

Nah carut marutnya industri transportasi penerbangan, menurut Alvin, disebabkan karena kebijakan yang salah selama ini. Misalkan penerapan tarif batas atas (TBA) sejak tahun 2014 tidak pernah ditinjau, dan disesuaikan. Pun juga tarif batas bawah (TBA) sejak 2016 tidak pernah dievaluasi. Sementara operating cost terus mengalami kenaikan.

“Kondisi industri transportasi udara hari ini adalah produk dari kebijakan pemerintah selama ini. Jadi kalau presiden tidak puas atau kecewa terhadap kondisi transportasi udara kita saat ini, seharusnya introspeksi, berbenah ke dalam. Bukan mengundang pihak luar untuk masuk,” kata Alvin. (FIN)

BERITA LAINNYA

loading...

BERITA TERBARU

© Copyright 2017 INDONESIA One | All Right Reserved