TOKOH ISLAM

Minggu, 09 Juni 2019

Menyimak Lagi, Pesan KH Hasyim Muzadi Untuk Keselamatan NKRI

Menyimak Lagi, Pesan KH Hasyim Muzadi Untuk Keselamatan NKRI

INDONESIAOne.Id ■ Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Ahmad Hasyim Muzadi tutup usia pada Kamis (16/3/2017).

Namun jasa dan sumbangsih pemikiran beliau masih saja terekam jejaknya.

Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini terkenal toleran dan mencintai perdamaian. Karena dedikasinya tersebut, Hasyim Muzadi diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Dalam sebuah wawancara Hasyim muzadi terakhir menyampaikan pendapatnya kepada awak media dalam acara halaqah ulama dan deklarasi laskar anti narkoba Muslimat NU di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (18/ 9/2016).

Diberitakan di Kompas.com, Selasa, 20 September 2016 pukul 06:48 WIB, Hasyim Muzadi mengungkapkan pesannya untuk menyelamatkan agama dan negara.

Hasyim Muzadi mengajak ulama ahlussunnah wal jamaah bangkit menyelamatkan agama dan negara dengan menghindarkan terjadinya tabrakan antara keduanya.
"Jangan sampai agama rusak ditekan negara dan negara rusak karena tidak didukung agama," ujar Hasyim.
Ia juga meminta para ulama untuk tidak tinggal diam melawan para kelompok yang menyebarkan paham radikal yang membenturkan Islam dengan negara.

Ia meminta para ulama untuk aktif mengisi tempat-tempat strategis dalam berdakwa.

"Jaga titik-titik di desa yang sekarang jadi pintu masuk radikalisme terorisme. Ini tidak bisa diserahkan polisi. Polisi baru menangkap kalau sudah berbuat teror," tuturnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa ulama yang belajar agama dari para pendahulu yang terhubung dengan para Walisongo adalah ulama yang jelas keindonesiaannya.

Hal ini berbeda dengan ulama-ulama yang belajar dari aliran di luar negeri.

"Karena itu ahlussunnah tak pernah berontak karena tak dipimpin dari luar, tidak seperti sekarang," ujarnya.

Pria yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Malang dan Depok ini memahami atas diamnya sikap para ulama ahlussunnah.

Namun sikap diam untuk menghindari konflik ini sudah tak bisa lagi dipertahankan.

"Biasanya ulama tak mau ramai-ramai sehingga yang menang yang suka ramai-ramai. Ulama terlalu sungkan sehingga yang menang yang tidak sungkan-sungkan," tambahnya.

Mengingat zaman yang berubah, Hasyim juga menyarankan agar para ulama lebih pandai dalam mengemas ajaran agama.

"Sekali lagi, ulama jangan diam. Sekarang agama memanggil untuk mengajarkan syariat yang benar, juga negara yang kini dilanda berbagai problema," tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa ulama harus tampil ditengah masyarakat untuk membenahi ummat serta memberikan teladan ditengan kondisi Indonesia yang krisis keteladanan.

Sumber: WOW

Re posting krn urgent

Rabu, 05 Juni 2019

Dr H Muchammad Ichsan, Lc, MA: Pemilu 2019 Masih Menyisakan Masalah Besar

Dr H Muchammad Ichsan, Lc, MA: Pemilu 2019 Masih Menyisakan Masalah Besar

INDONESIAOne.Id ■ Hingga hari ini, kita masih sangat prihatin, karena Pemilu 2019 masih menyisakan masalah besar bagi bangsa Indonesia.

" Meskipun pemilu serentak telah selesai diselenggarakan tanggal 17 April yang lalu, namun kita belum mendapat pemimpin yang diidamkan, dan masyarakat justru terbelah. Masyarakat merasa dikhianati," demikian hal itu disampaikan Ustadz Dr H Muchammad Ichsan, Lc, MA dalam khutbah Idul fitri 1440H/2019 M di Sonosewu, Yogyakarta, pagi hari tadi. (05/06).

Untuk itu, Dosen UMY Magister Ilmu Hukum Yogyakarta ini mengajak umat islam untuk menjaga persatuan dan perdamaian.

"Indonesia adalah rumah besar kita. Kita harus guyub, rukun dan bersatu padu di dalamnya," ajak Ichsan.

Namun pertanyaan besarnya, bisakah persatuan Indonesia dipertahankan jika ajaran agama tidak dijalankan? Bisakah persatuan Indonesia dipelihara jika hak-hak rakyat didalam berpolitik dan berekspresi dinafikan? Bisakah persatuan Indonesia dijaga bila demokrasi dicederai dan Pemilu dicurangi?

"Dalam pemilu, umat islam merasa dicurangi. Banyak kecurangan sebelumnya, ketika dan setelah pemilu dilaksanakan. Hal ini tentu membuat tidak puas hati. Hal ini tentu membuat rakyat marah," imbuhnya.

Indonesia adalah rumah besar kita. Marilah kita jaga rumah kita ini dengan baik. Caranya, persatuan Indonesia harus Solid. Supaya kita bersatu padu maka hukum harus dijadikan sebagai panglima. Keadilan harus ditegakkan. Kezaliman harus dihinakan. Yang benar harus kita katakan benar dan marilah kita semua berpihak kepada kebenaran. Yang salah harus kita katakan salah dan sampai kita mendukungnya.

"Hukum jangan tajam kebawah, tumpul ke atas. Hukum jangan hanya tajam kepada lawan politik tapi tumpul kepada pendukung penguasa saja," katanya.

Menurut Ichsan, apabila kecurangan, kezaliman dan kejahatan dibiarkan maka rakyat akan marah. Kemarahan rakyat akan memicu perpecahan. Maka supaya tidak berpecah belah dan tetap bersatu padu, keadilan di rumah besar kita ini harus ditegakkan.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Ichsan juga membacakan sebuah puisi karya Taufik Ismail yang berjudul "Malu Aku Jadi Orang Indonesia".

■ Kamil Affan

Minggu, 02 Juni 2019

Bupati Majalengka: Wacana Bandara Kertajati Sebagai Embarkasi Haji Terkendala Penginapan


INDONESIAOne.Id ■ Wacana menjadikan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau Bandara Kertajati, sebagai embarkasi haji masih terkendala soal fasilitas pendukung. Terutama sarana penginapan bagi para jemaah haji yang akan diberangkatkan.

Bupati Majalengka Karna Sobahi mengatakan, rencana menjadikan BIJB sebaai embarkasi haji sudah jadi keputusan dalam rapat bersama Menko Kemaritiman, Kemenag dan Menhub bersama Kabupaten Majalengka, Cirebon, Kuningan, Indramayu, Subang dan Sumedang di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, beberapa permasalahan krusial belum ada solusinya. Dikhawatirkan, jika tetap dijadikan embarkasi haji, pelayanan terhadap jamaah tidak akan maksimal.

“Mau nginap dimana nanti para jamaah haji? Sedangkan fasilitas yang menunjang belum memadai,” kata Karna usai upacara peringatan hari lahir Pancasila di Majalengka, Sabtu (1/6).

Penyelenggaraan haji harus teliti, tertib dan dijaga betul keamanannya. “Termasuk untuk pemeriksaan paspor, akan dilakukan di hotel bukan di bandara," terang dia seperti dilansir Kantor Berita RMOL Jabar.

Dikatakan Karna lebih jauh, pemerintah masih berusaha mencari solusi atas persoalan infrastruktur penunjang embarkasi haji tersebut.

“Untuk Islamic center kita udah fix, tapi gimana untuk penginapan? Hotel yang ada tidak memadai,” jelas Bupati Majalengka.

Bicara layanan penerbangan, BIJB,  sudah siap.  Bandara ini punya runway sepanjang 3 km yang mampu melayani pesawat berbadan lebar.

“Yang jadi permasalahan adalah fasilitas pendukung yang belum memadai," tandas dia.

Kamis, 23 Mei 2019

Ustadz Arifin Ilham Wafat, Jamaah Terus Berdatangan ke Masjid Az-Zikra

Ustadz Arifin Ilham Wafat, Jamaah Terus Berdatangan ke Masjid Az-Zikra

INDONESIAOne.Id ■ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Indonesia berduka, utamanya ummat islam. Di bulan Ramadhan yang mulia ini, salah satu ulama besar ini dipanggil Allah SWT. KH Arifin Ilham meninggal dunia pada usia 50 tahun.

Demikian hal ini langsung dikabarkan oleh putranya sendiri, Muhammad Alvin Faiz lewat akun Instagram-nya, pada Rabu (22/5/2019).

Menurut rencana, setibanya dari Penang Malaysia di Bandara Halim Perdana kusuma sekitar jam 11.00 siang ini, Ustadz Arifin Ilham akan dimakamkan di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Pihak keluarga mengabarkan, Sebelum dimakamkan, jenazah Ustadz Arifin akan di sholatkan terlebih dahulu di Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor.

Sementara Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat, jamaah yang hendak melakukan takziah sudah berdatangan sejak pukul 04.30 WIB, Kamis (23/5/2019).

Tampak di lokasi puluhan tenda sudah berdiri rapi, dan tampak pula jamaah yang menunggu kedatangan jenazah Ustadz Arifin.

Sedangkan jamaah yang berada di masjid sejak subuh tadi terus mendoakan Ustadz Arifin. Pengurus masjid juga sempat mengumumkan kapan tibanya jenazah Ustaz Arifin di Indonesia.

"Setelah dibawa ke masjid, insha allah kita akan shalat Zuhur berjamaah dilanjutkan dengan shalat jenazah. Setelah shalat, jenazah akan dibawa ke Gunung Sindur, kita shalatkan di Gunung Sindur sekaligus dimakamkan," kata salah satu pengurus masjid di lokasi melalui pengeras suara.

Suasana haru masih menyelimuti Masjid Az-Zikra. Sebagian jamaah yang hadir menangis atas kepergian Ustaz Arifin. Hingga saat ini, jamaah masih terus berdatangan. Mereka saat ini sedang melakukan zikir.

■ Dea Sumiati 

Selasa, 14 Mei 2019

PB HMI: Bila Terjadi Disintegrasi Bangsa, KPU dan Bawaslu Yang Bertanggungjawab


INDONESIAOne.Id ■ Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menilai Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) adalah pihak yang paling bertanggungjawab bila terjadi disintegrasi bangsa pasca pelaksanaan Pemilu 2019.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB HMI, Taufan Tuarita dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (13/5) malam.

"Banyaknya permasalahan yang muncul, baik di masyarakat ataupun di partai politik serta capres, sebelum dan pasca pemungutan suara pada 17 April menjadi tanggungjawab KPU dan Bawaslu. Bila dibiarkan berlarut bisa menimbulkan disintegrasi bangsa," tegas Taufan.

Menurut Sekjen PB HMI, masyarakat luas bisa menyimak dan mengetahui, sebelum hari pencoblosan dan pada hari H, banyak kesalahan yang menjadi tanggungjawab KPU dan Bawaslu.

Misalnya, jelas Taufan, adanya kertas suara yang berada tidak pada tempatnya dan sudah dicoblos seperti yang terjadi di Malaysia.

Sementara di Medan, Situbondo, dan Purwakarta, pada hari H pencoblosan tidak ada surat suara untuk pemilihan presiden. Sehingga harus ditunda.

Disamping itu, lanjutnya, Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU menjadi biang keresahan tersendiri di masyarakat luas.

"Terlalu banyak kesalahan input, mulai dari suara yang berubah, hingga tidak lengkapnya unsur-unsur yang ditayangkan. Ada angka, tapi tidak ada C1nya," ungkap Taufan.

Dalam pandangan PB HMI, jelas mantan Bendahara Umum PB HMI ini, ketidaktegasan KPU dan Bawaslu dalam menangani semua permasalahan yang muncul telah menimbulkan berbagai konflik di masyarakat luas.

"Masyarakat jadi tidak percaya terhadap kinerja KPU dan Bawaslu dalam melaksanakan Pemilu yang jujur, adil, berintegritas, dan bermartabat" pungkas Taufan. (rmol)



Selasa, 07 Mei 2019

Masjid Nurul Askar Yonif Raider 303 Kostrad Salurkan Zakat Mal Kaum Dhuafa di Garut

Masjid Nurul Askar Yonif Raider 303 Kostrad Salurkan Zakat Mal Kaum Dhuafa di Garut

INDONESIAONE.ID ■ Ramadhan tahun ini, Masjid Nurul Askar Yonif Riader 303 Kostrad melaksanakan penyaluran Zakat Mal anggota beserta keluarga Yonif Raider 303 Kostrad yang diserahkan kepada kaum dhuafa di wilayah seputaran Batalyon. Cikajang, Garut, kemarin.

Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya, dengan mekanisme anggota Yonif Raider 303 Kostrad memberikan Zakat Mal kemudian diberikan kepada pengurus DKM Masjid Nurul Askar Yonif Raider 303 Kostrad, kemudian dari pengurus dikumpulkan dan di data siapa yang pantas untuk mendapatkan Zakat Mal ini, setelah terkumpul dan tercatat, dana yang terkumpul kemudian diserahkan langsung oleh pengurus DKM kepada orang yang bersangkutan.

BACA JUGA: Punya Web, Tapi Tidak Punya Akun AdSense? Ini Solusinya 

Dengan diadakannya Zakat Mal ini, disamping meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan kegiatan ini juga sesuai dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi :

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah, dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya,” (HR. Muslim).

Penyaluran ini dilaksankan oleh Ketua DKM Masjid Nurul Askar Yonif Raider 303 Kostrad Praka Ari Saputra beserta lima orang anggota DKM lainnya.

“Penyerahan Zakat Mal ini adalah bentuk kepedulian anggota Yonif Raider 303 Kostrad, kepada masyarakat yang kurang mampu guna untuk mempererat tali silaturahmi sesama Muslim, dan semoga bermanfaat,” ucap Praka Ari Saputra.

Penyaluran Zakat Mal ini disambut baik oleh warga yang kurang mampu disekitaran Yonif Raider 303 Kostrad. Salah satu diantaranya adalah Ibu Ai (40) beliau menyampaikan terimakasih banyak kepada Yonif Raider 303 Kostrad "Kegiatan ini semoga terus berlanjut dan untuk anggota Yonif Raider 303 Kostrad selalu diberikan kesehatan,  kesuksesan dan dilipatgandakan rezekinya,"

■ Red/Penkostrad

Sabtu, 04 Mei 2019

Safari Terimakasih Indonesia, Dahnil: Kedaulatan Rakyat Harus Tetap Tegak Berdiri

Safari Terimakasih Indonesia, Dahnil: Kedaulatan Rakyat Harus Tetap Tegak Berdiri

INDONESIAONE.ID ■ Koordinator Juru Bicara BPB Prabowo Sandi, Dahnil A Simanjuntak mengatakan kunjungan TIM BPN ke pelbagai daerah yang dikemas dalam "Safari Terimakasih Indonesia" sebagai wujud ungkap syukur dan rasa terima kasih kepada relawan secara langsung atas dukungan dan kerja keras mereka yang sangat luar biasa.

"Saya menyampaikan ceramah dalam rangkaian "Safari Terimakasih Indonesia" di Medan hari ini (4/5). Kedaulatan rakyat harus tetap tegak berdiri," kata Dahnil melalui akun resminya, sesaat yang lalu. 

Sebelum ke Medan, sebelumnya TIM BPN juga berkunjung ke Aceh. Bahkan, secara bersamaan Prabowo dan Sandi turut mengunjungi Banda Aceh. 

Kedatangannya ke Tanah Serambi Mekkah itu tak lain untuk berterima kasih atas dukungan yang diberikan kepada paslon nomor urut 02.

"Hari ini saya menuju Banda Aceh, bertemu para relawan dan mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan kerja keras yang sangat luar biasa dari sejak awal kampanye hingga saat ini mengawal rekapitulasi suara," kata Sandiaga, Jumat (3/5). 

Kamis, 02 Mei 2019

Ijtima Ulama 3 Minta KPU dan Bawaslu Diskualifikasi Pasangan 01





Para ulama yang tergabung dalam Ijtima Ulama 3 meminta Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk membatalkan atau mendiskualifikasi calon presiden dan wakil presiden 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.

Mereka menyatakan hal itu dalam Ijtima Ulama 3 di Sentul, Bogor (Rabu (01/05).

Ustadz Yusuf Martak, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama mengatakan, "telah terjadi berbagai kecurangan dan kejahatan yang bersifat terstruktur, sistematis, masif dalam proses penyelenggaraan Pemilu 2019."

Prabowo yang juga hadir dalam acara mengatakan bahwa kesimpulan pertemuan "cukup komprehensif dan tegas."

Ustadz Bachtiar Natsir menyebut kehadiran ulama justru untuk apa yang dia sebut sebagai upaya "meredam" suara-suara pendukung capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang menganggap ada kecurangan pada penyelenggaraan pemilu tahun ini.

"Posisi kami harusnya diapreasiasi, karena ada arahan (dalam forum agar pendukung Prabowo) tenang, aman, tidak boleh ada chaos," kata Bachtiar.

Berikut Hasil Keputusan Ijtima Ulama III yang dibacakan oleh Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama, Yusuf Martak di Hotel Lor In, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/5).

Rekomendasi Ijtima Ulama III:

1. Menyimpulkan bahwa telah terjadi berbagai kecurangan dan kejahatan yang bersifat tersitruktur, sistematis dan masif dalam proses pemilu 2019.

2. Mendorong dan meminta kepada BPN Prabowo-Sandiaga untuk mengajukan keberatan melalui mekanisme legal prosedural tentang terjadinya berbagai kecurangan dan kejahatan yang terstruktur, sistematis dan masif dalam proses pilpres 2019.

3. Mendesak Bawaslu dan KPU untuk memutuskan pembatalan/diskualifikasi paslon capres cawapres 01.

4. Mengajak umat dan seluruh anak bangsa untuk mengawal dan mendampingi perjuangan penegakan hukum dengan cara syar'i dan legal konstitusional dalam melawan kecurangan dan kejahatan serta ketidakadilan termasuk perjuangan/diskualifikasi paslon capres cawapres 01 yang melakukan kecurangan dan kejahatan dalam pilpres 2019.

5. Memutuskan bahwa perjuangan melawan kecurangan dan kejahatan serta ketidakadilan adalah bentuk amar makruf nahi munkar, konstitusional dan sah secara hukum demi menjaga keutuhan NKRI dan kedaulatan rakyat.

Minggu, 21 April 2019

Amanat Habib Rizieq Hadapi Kecurangan

Amanat Habib Rizieq Hadapi Kecurangan

Habib Rizieq: "Saya amanatkan kepada (kubu) Prabowo-Sandi untuk tidak melakukan pertemuan apalagi melakukan deal-deal dengan partai koalisi rezim yang melakukan kecurangan di berbagai daerah,"

Simak amanat lengkap Habib Rizieq dalam vidio ini:


Kamis, 18 April 2019

Tak Percaya Quick Count, Warga Cianjur akan Gelar Ngaliwet Akbar Kemenangan Prabowo

  Tak Percaya Quick Count, Warga Cianjur akan Gelar Ngaliwet Akbar Kemenangan Prabowo

INDONESIAONE.ID ■ Rupanya, tak semua warga mempercayai hasil Quick Count di TV. Warga Cianjur misalnya, lebih mempercayai hasil real count yang diumumkan Badan Pemenangan Prabowo Sandi.

"Ya, kami lebih percaya hasil real count BPN. Karena riil, tidak manipulatif dan rekayasa. Disitu ada suara umat yang dititipkan hasil ijtima ulama," kata Dadang Koswara, tokoh masyarakat dan sesepuh warga Cugenang Cianjur, hari ini. (18/04).

Tak hanya itu, sebagai rasa ungkap syukur pada Allah, pihaknya pun tengah menggagas akan menggelar acara ngeliwet akbar bagi warga Cianjur Sukabumi.

"Kita sedang koordinasi dengan instansi terkait, untuk acara ngeliwet akbar sebagai rasa syukur atas kemenangan Prabowo," katanya.

Dadang berjanji akan menyampaikan pertama bila lokasinya mendapat izin dari pihak berwajib. "Selain alun-alun Cianjur, ada beberapa lokasi yang sudah diusulkan," imbuhnya.

Sementara KPU menghimbau kepada masyarakat untuk bersabar dan tunggu hasil yang dikeluarkan oleh KPU. hal itu disampaikan karena makin banyak masyarakat yang membandingkan hasil quick count dengan hasil suara yang ada di berbagai TPS. 

Sebelumnya, Calon Presiden 02 Prabowo Subianto menegaskan berdasarkan hasil real count, Ia dan Sandiaga Uno sudah memenangkan pilpres 2019 dengan perolehan suara 62 persen.

"Berdasarkan hasil real count kita sudah menang 62 persen," kata Prabowo di kediamannya, Jakarta, Rabu (17/4) malam.

Menurut Prabowo, perolehan suara 62 persen itu berdasarkan suara yang diambil dari 320.000 Tempat Pemungutan Suara (TPS) pemilu 2019 atau sekitar 40 persen.

"Saya yakin ini hasil dari ahli statistik dan ini tidak akan berubah banyak," kata Prabowo.

"Bisa naik 1 persen bisa juga turun 1 persen. Tapi detik ini hari ini kita berada 62 persen," imbuhnya.

Atas dasar itu, Prabowo meminta pendukungnya untuk mengawal suara di TPS, tiap kecamatan dan formulir C1.

■ Ilham Alfarizi 

Rabu, 27 Maret 2019

Sukabumi Dipilih Jadi Lokasi Shoting Film Buya Hamka

Film Buya Hamka

INDONESIAOne.ID ■ Kisah perjalanan kehidupan Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka difilmkan. Rumah produksi Starvision Plus dan Falcon Pictures bekerja sama menggarap proyek besar ini.

Film tentang Buya Hamka digagas oleh mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin. Produser Starvision Plus, Chad Parwez, langsung menerima tawaran yang datang pada 2014 itu. Ini merupakan film Indonesia pertama yang bekerja sama dengan MUI.

Film tentang tokoh asli Sumatra Barat itu melibatkan sederet artis papan atas Tanah Air. Sosok Buya Hamka sebagai tokoh utama diperankan oleh Vino G Bastian. Suami Marsha Timoty itu dipilih karena karakter suaranya mirip dengan Buya Hamka.

“Pertama kali dipilih, saya dites suara. Mereka memilih saya karena suaranya katanya sama, serak-serak tipis gitu,” terang Vino G Bastian seperti dirilis Suara.com, Selasa (26/3/2019).

Vino G Bastian yang mengaku mendapat peran itu sejak 2017 lalu mengaku telah menjalani serangkaian proses casting.

“Proses casting-nya bukan cuma ketemu terus dapat. Tapi, ada tes lagi. Saya pernah dites baca Alquran,” katanya.

Aktor berusia 37 tahun itu juga dituntut lancar berbicara bahasa Arab. Meski mengaku kesulitan, Vino G Bastian belajar dengan tekun demi memerankan sosok Buya Hamka dengan totalitas.

“Belajar bahasa Arab-nya rutin selama dua bulan. Sepekan beberapa kali kita bertemu dengan guru. Kebetulan MUI juga mengajarkan. Beberapa teman di sini juga ada yang bisa. Ternyata, bahasa Arab juga susah,” tuturnya.

Pada film terbaru ini, Vino G Bastian bakal beradu akting dengan Laudya Cynthia Bella yang berperan sebagai istri Buya Hamka, Siti Raham. Selain itu, ada sederet bintang lainnya yang meramaikan film tersebut. Mulai dari Ayudia Bing Slamet, Desy Ratnasari, Donny Damara, hingga Ben Kasyafani.

Film Buya Hamka mulai diproduksi pada 1 April 2019. Adapun lokasi syuting yang dipilih di antaranya, Sumatra Barat, Semarang, Tegal, Jakarta, dan Sukabumi. Film biopik ini diproyeksikan tayang pada 2020 mendatang.

Senin, 25 Maret 2019

Tommy Soeharto: Partai Berkarya akan Bangun Pesantren Mandiri di Jawa Barat

 Tommy Soeharto: Partai Berkarya

INDONESIAOne.ID ■ Ketua Umum Partai Berkarya, Tommy Soeharto berjanji akan membangun pesantren mandiri atau eko pesantren dengan program pendidikan berbasis internet.

"Kami sudah bekerjasama dengan pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mewujudkan rencana ini," katanya saat berkunjung ke Desa Pawenang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

"Program ini akan membantu santri mengembangkan perekonomian pesantren." terang Mas Tommy dalam rilisnya yang diterima redaksi pada Senin (25/3/2019).

Menurut Tommy Soeharto, para santri diharapkan tidak sekadar pintar berdakwah tapi juga mampu mengembangkan perekonomian. Sehingga, kelak santri bisa hidup mandiri.

"Pesantren mandiri akan menjadi percontohan," imbuh Tommy Soeharto di hadapan santri Ponpes Al-Qurthubiyyah, Desa Pawenang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Menggunakan mobil bernomor polisi B 1253 PYA, Tommy Soeharto tiba di Desa Pawenang didampingi Letjen (Purn) Yayat Sudrajat, Wakil Ketua Umum DPP Partai Berkarya, Wasekjen Partai Berkarya Rita Irawati Priatna, dan puluhan anggota Laskar Berkarya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al-Qhurthubiyyah KH. M. Mustofa dalam sambutannya mengatakan, "Semoga kedatangan Pak Tommy Soeharto membawa keberkahan dalam pengembangan pendidikan diniyah, tsanawiyah, aliyah, dan menciptakan generasi bangsa yang sholeh dan sholehah."

■ Rasyid

Jumat, 22 Maret 2019

Kunjungi Daerah Terpencil, Bupati Luwu Utara Bagi-bagi Al-Quran

Bupati Luwu Utara IndonesiaOne.Id

INDONESIAOne.ID ■ Daerah terpencil perlu mendapatkan perhatian khusus. Demikian dikatakan Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, usai memberikan bantuan berupa 20 Al-Quran dan Juz Amma kepada warga desa terpencil di Kecamatan Rampi baru-baru ini, tepatnya di Desa Sulaku.

Bupati menyebutkan bahwa bantuan ini merupakan bantuan dari Kementerian Agama yang diperuntukkan bagi masyarakat di desa-desa terpencil.

Tidak hanya itu, Indah juga memberikan bantuan berupa satu unit wireless kepada Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Desa Sulaku.

“Semoga bantuan ini (wireless) dapat memberikan manfaat, tidak hanya di bidang keagamaan saja, tetapi juga di  bidang sosial kemasyarakatan,” kata Indah saat bersilaturahmi dengan jamaah di Masjid Al Istighfar.

Dalam kunjungan silahturahmi ini, Indah berpesan agar kegiatan pengajian yang rutin dilaksanakan BKMT sedapat mungkin dilakukan secara variatif, seperti bedah buku, mengkaji ayat dalam Al Qur’an serta memberdayakan anggota majelis taklim.

“Ini salah satu komitmen kita untuk mewujudkan visi religius di Kabupaten Luwu Utara,” ujarnya.

Bupati mengungkapkan, pada tahun ini ada 80 BKMT yang akan diberikan bantua wireless untuk dimanfaatkan BKMT dalam setiap kegiatan yang dilakukan.

“Terima kasih kepada seluruh organisasi BKMT karena aktivitas keagamaan di Kabupaten Luwu Utara semakin berkembang dan mengalami kemajuan,” pungkasnya.

■ R-03 / Putri

Satgas Pamtas RI-Malaysia Kunjungi Tokoh Agama di Garut

  Satgas Pamtas RI-Malaysia

INDONESIAOne.ID ■ Satgas Pamtas RI-Malaysia, Batalyon Infanteri Raider (Yonif R) 303 Kostrad melaksanakan kegiatan anjangsana ke beberapa Tokoh agama, Tokoh daerah dan Tokoh masyarakat yang berada di wilayah sekitaran tempat latihan bertempat di wilayah Cisompet, Garut, Jawa Barat. Kamis (20/03)

Rasa saling menghormati satu sama lain antar umat beragama maupun dengan masyarakat sekitar daerah latihan memang merupakan suatu sikap yang harus dimiliki oleh seluruh prajurit TNI, begitupun dengan seluruh prajurit Satgas Pamtas RI-Malaysia, Yonif R 303 Kostrad yang sedang melaksanakan latihan Pratugas.

Setelah resmi dibuka kegiatan latihan Pratugas, Satgas Pamtas RI-Malaysia yang dilaksanakan mulai tanggal 18 s.d 29 Maret 2019. Mengawali kegiatan di daerah latihan Cisompet-Garut, prajurit satgas Yonif R 303 Kostrad melaksanakan kegiatan anjangsana ke beberapa Tokoh agama, Tokoh daerah dan Tokoh masyarakat yang berada diwilayah sekitaran tempat latihan.

“Dengan diadakannya anjangsana ini para prajurit Satgas Pamtas Yonif Raider 303 Kostrad diharapkan dapat saling mengenal satu sama lain, baik lingkungan masyarakat, pejabat desa setempat maupun masyarakat di wilayah sekitar tempat latihan,” ungkap Komandan Yonif R 303 Kostrad, Letkol Inf Taufik Ismail .

Sesuai dengan pengarahan Kepala Staf Divisi Infanteri 1 Kostrad, Brigjen TNI Joko P Putranto, M.Sc., yang dilaksanakan sebelum prajurit berangkat ke daerah latihan, dengan slogan "winning the heart and mind of the people" bahwa Cintailah dan sayangilah masyarakat, maka masyarakat pun akan mencintai dan menyayangi TNI, khusunya Prajurit Satgas Pamtas RI-Malaysia yang sedang melaksanakan latihan pratugas didaerah Cisompet, Garut.

Hadir pada kesempatan ini, para Perwira Staf Yonif R 303 Kostrad, tokoh masyarakat,  tokoh daerah dan Muspida setempat.

■ Rasyid/Penkostrad

Senin, 18 Maret 2019

Beri Penghormatan Kepada 50 Muslim, Pelajar di Christchurch Bacakan Doa


INDONESIAOne.ID ■ Para pelajar di Christchurch hari ini )18/3) turun ke masjid Al Noor dengan membawa bunga, boneka beruang, dan membacakan doa, sambil mengaitkan senjata untuk menyanyikan lagu-lagu Maori tradisional sebagai penghormatan kepada 50 muslim yang tewas dan 34 terluka dalam tragedi teroris pada hari Jumat lalu.

Inisiatif itu menyusul pasca serangan terhadap komunitas Muslim, yang dimulai dengan pembunuhan 43 jamaah di masjid Al Noor, dan dilanjutkan dengan tujuh pembunuhan lagi di masjid Linwood di seberang kota. 

"Komunitas muslim di sini sangat kehilangan mereka," kata seorang guru dan ayah dua anak Asif Ahmed, 42, yang mengaku pindah ke Selandia Baru dari Bangladesh lima tahun lalu dan kehilangan beberapa teman dekat dalam serangan itu.

“Selandia Baru adalah negara yang sangat baik, penuh damai. Semua orang telah menelepon untuk menanyakan bagaimana perasaan saya, dapatkah mereka membantu, jadi persahabatan di sini sangat kuat,” imbuhnya.

Terkait insiden penembakan teroris itu, setelah rapat kabinet tentang undang-undang senjata pada hari Senin, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan bahwa dalam 10 hari setelah serangan itu, "kami akan mengumumkan reformasi yang, saya yakin akan membuat komunitas muslim lebih aman," katanya, seperti dirilis TIME.

Sementara itu, Walikota Christchurch Lianne Dalziel mengatakan dia bangga dengan bagaimana bangsa dan kota merespons tragedi itu. Orang-orang Yahudi ortodoks, Hindu, Kristen, dan Sikh semuanya bersatu untuk membantu para korban dan keluarga korban pasca tragedi ini.


Minggu, 17 Maret 2019

Ribuan Milenial Karawang Berdzikir Agungkan Asma Allah di Masjid Agung Syeh Quro


INDONESIAOne.ID ■ Ribuan para milenial kota Karawang tadi malam memenuhi panggilan hijrah dengan berdzikir bareng bersama ulama dan habaib dalam acara 'Karawang Bermunajat Untuk Bangsa' di Masjid Agung Syeh Quro, Karawang, Sabtu (16/3/2019) malam.

Pantauan IndonesiaOne, para milenial ini tidak saja datang dari Karawang kota, mereka juga datang dari Cikampek, Purwakarta, Cikarang dan Bekasi.

"Ya, kami ingin berdzikir bersama ulama, semoga membawa keberkahan bagi kita semua," kata Ummi Fitri, warga Bekasi yang malam tadi hadir bersama rombongan keluarga.

Menurutnya, acara ini bukan hanya sebagai wadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga merupakan acara silahturahmi bagi warga Karawang.

Sementara itu, Ketua Panitia acara sekaligus Presidium Aliansi Pergerakan Islam Karawang (Aspika), Irwan Taufik menjelaskan, acara ini sukses digelar dan diikuti oleh ribuan Umat Muslim.

"Ini membuktikan bahwa acara yang diinisiasi oleh para aktivis Islam, Ulama dan Habaib ini mampu menyatukan umat di tengah berbagai macam perbedaan, dan pandangan. Bagi kami persaudaraan, ukhuwah islamiah adalah yang paling utama," kata Kang Irwan.

Atas sukses acara ini, pihaknya menggagaskan akan menggelar acara serupa dengan thema yang berbeda. Dia bertekad jelang bulan suci ramadhan kegiatan para milenial terus dikobarkan, karena hanya dengan bermunajat, dzikir, bershalawat, dan berdoa bersama akan membawa Bangsa Indonesia lebih tentram dan aman, khususnya bagi warga Karawang yang serba heterogen ini.

■ Kang Rasyid 

Senin, 11 Maret 2019

Kisah Poligami 12 Istri di NTT Diputar Stasiun Televisi NHK Jepang


INDONESIAOne.ID ■ Sistem perkawinan dengan memperbolehkan punya istri lebih dari satu orang yang biasa disebut dengan poligami selalu disangkutkan dengan isu agama. Pro dan kontra bermunculan merespons praktik pernikahan ini.

Terlepas dari perdebatan tersebut, praktik poligami tumbuh subur atas nama budaya di wilayah Kodi Balghar, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para pria biasa menikahi lebih dari satu wanita.

Kakek-kakek bernama MD Raya bahkan memperistri 12 orang. Mereka hidup bersama dalam satu desa minim fasilitas yang mengandalkan hidupnya dari berkebun dan hasil ladang.

Realitas kehidupan sang kakek flamboyan digambarkan sutradara asal Klaten, Tonny Trimarsanto, dalam film dokumenter berjudul A Man with 12 Wives. Tonny merekam aktivitas Raya bersama istri, anak, cucu, dan masyarakat sekitar.

Trailer film yang diunggah beberapa tahun lalu di akun Youtube-nya dibuka dengan gambaran rumah adat masyarakat Sumba. Disusul dengan wawancara singkat salah satu anak Raya dari istri ke-12 yang terlihat santai, dan aktivitas lainnya.

Di salah satu video, ia merekam pernyataan seorang cucu perempuan yang mengancam sembari berkelakar akan ‘membunuh’ sang kakek kalau sampai menikah lagi.

“Sangat manusiawi [pernyataan tersebut]. Perasaannya paling dalam sebagai perempuan. Tapi sebenarnya ada pertanyaan sederhananya yang belum menemukan jawaban yaitu apakah mungkin cinta itu bisa dibagi dengan kualitas dan kuantitas yang sama. Kadar [cinta] itu kan sangat relatif, subjektif,” kata Tonny saat diwawancarai Solopos.com, Kamis (7/3/2019).

Menariknya lagi, pernikahan tersebut juga memengaruhi perjalanan politik sang kakek. Raya pernah menjabat Kepala Desa di Kodi Balaghar selama lebih dari 30 tahun karena selalu menang suara. Jumlah anggota keluarga dari 12 istri, 58 anak, dan 250 cucu menguntungkannya.

Ia menguasai lebih dari 50% total suara jika ditambah saudara, besan dan menantu. Mengingat total pemilih di kampung tersebut hanya 700 jiwa.

Tonny mengikuti kehidupan keluarga Raya dengan relasi-relasi yang unik di antara mereka. Serta melihat perubahan yang terjadi ketika sang tokoh utama tak lagi menjabat sebagai kepala desa.

“Dari kehidupan yang cukup, kini MD Raya harus mampu mengubah cara pandang anak anaknya dalam berkeluarga. Ada banyak persoalan baru yang muncul dan harus dituntaskan oleh MD Raya dan keluarga besarnya,” terang Tonny.

Pengajar Penciptaan Seni, Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, ini tak ingin menggiring masyarakat ke satu opini tertentu lewat film A Man with 12 Wives. Ia hanya memperlihatkan realitas poligami lengkap dengan berbagai persoalan dan konsekuensi logisnya. Tonny menggambarkan dampak serius yang harus disikapi terkait poligami.

Film ini digarap sejak 2011. Berawal dari ketidaksengajaannya saat shooting produk rokok di Sumba. Salah satu kru memberitahu Tonny soal praktik poligami di kecamatan setempat. Setelah ditelisik, ia tertarik membuat film hingga bolak-balik Solo–Sumba mulai 2011 hingga 2016. Berdurasi 30 menit, A Man with 12 Wives tayang perdana di stasiun televisi NHK Jepang.

Diputar dalam program Inside Land yang khusus memutar karya sineas dari berbagai negara. Ini merupakan kerja sama keduanya bersama NHK. Sebelumnya pada tahun 1995 ia menggarap cerita kemerdekaan dengan judul Dongeng Kancil tentang Kemerdekaan.

Narasi poligami dari tanah Sumba ini juga pernah diputar di beberapa festival. Pada Rabu (6/3/2019) malam Tonny menggelar screening dan diskusi di Rumah Dokumenter Klaten.

“Sebenarnya banyak yang meminta untuk pemutaran film ini di beberapa tempat lain. Tapi karena ini terkait dengan NHK Jepang juga, jadi saya harus minta izin dulu ke mereka. Sementara saya list lalu menunggu izin dan kepastian dari NHK,” terangnya. (Sumber: Solopos)

Selasa, 05 Maret 2019

Ini Kata MUI Soal Larangan Mengucap Kafir pada Non-Muslim


INDONESIAOne.ID ■ Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Huzaimah Tohido Yanggo, menanggapi larangan pengucapan kafir untuk non-Muslim. Larangan terbut adalah salah satu point yang menjadi salah satu hasil bahtsul masail (kajian masalah) dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019.

Huzaimah berpendapat, di dalam Alquran memang ada penyebutan kafir untuk orang yang berbeda akidah. "Di dalam Alquran, kalau untuk umum manusia seluruhnya, apakah Muslim atau non-Muslim, itu pakai ayyuhannaas (wahai manusia)," kata dia kepada Republika.co.id di Jakarta, Selasa (5/3).

Sementara, dalam konteks Indonesia, lanjut Huzaimah, dari dulu memang tidak ada penyebutan kafir. Bahkan di dalam undang-undang pun tidak ada. Dalam konteks berwarganegara pun, kata dia, selalu dikatakan dengan sebutan nonmuslim untuk merujuk pada orang beragama selain Islam.

"Kalau kita menyebut ada yang kafir, ada yang mukmin, kan itu di kalangan kita sendiri, misalnya mungkin dalam ceramah atau apa, dan bukan saat sedang bersama mereka (nonmuslim).

Huzaimah mencontohkan acara-acara nasional yang dalam sesi pembacaan doa selalu disebutkan bahwa berdoa sesuai keyakinan masing-masing. "Enggak ada dibilang sesuai kafir atau Islam. Dan di acara nasional kan ada macam-macam agama yang hadir," ungkap dia.

Menurut Huzaimah, larangan pengucapan kafir itu tidak ada kaitannya dalam berwarganegara. Sebab di Indonesia, kata dia, ada beberapa agama yang diakui sehingga harus saling menghormati dan saling menghargai.

"Tapi tidak disuruh 'hai kafir'. Enggak ada yang bilang begitu. Hanya disuruh agar mereka kembali ke jalan yang benar. Disuruh bertaubat. Enggak pernah 'jangan kamu kafir. Hanya diajak supaya kembali ke jalan yang benar, tentu jalan yang benar itu adalah yang sesuai dengan akidah Islam," katanya. (Sumber:ROL)


Masjid Yang Gagal Membangun Generasi



Penulis buku “5 Langkah Mudah Membentuk dan Mengoptimalkan Baitul Maal Masjid”/Penganggas Konsep Gerakan membangun desa/kampung berbasis Baitul Maal Masjid/Ketua Lembaga Trainer & Penelitian Keummatan AL HADID/Founder Gerakan Peduli Masjid (GPM) Indonesia

Masjid yang gagal membangun generasi ……., inilah tema yang saya angkat kali ini sebagai lanjutan dari tulisan-tulisan saya sebelumnya tentang artikel “Kini Saatnya Masjid Berubah”. Sudah kita maklumi bersama hampir setiap aktivitas kita sebagai manusia tak pernah lepas dari namanya rencana. Apapun aktivitas kita, entah mau kerja atau sekolah, saat mau pergi, saat mau belanja dan lain sebagainya, kita tak lepas dari yang namanya rencana. Kalau dalam ilmu manajemen modern bisa diistilahkan dengan PLANNING.

Setelah kita membuat perencanaan, proses Lanjutan dari proses Rencana yakni melaksanakan apa yang telah di planningkan dengan sebaik-baiknya. Kemudian tentu berlanjut dengan adanya EVALUASI sebagai bagian tahapan sejauh mana pelaksanaan dari rencana yang telah kita buat sebelumnya. Setelah evaluasi sudah tentu menuntut adanya INDIKATOR KEBERHASILAN yang akan digunakan untuk menilai apakah pekerjaan atau aktivitas kita bisa dikatakan berhasil atau tidak.

Indikator keberhasilan adalah bagian yang terpenting dari seluruh rangkaian yang saya paparkan di atas. Sebab indikator adalah proses akhir dari seluruh aktivitas yang telah kita lakukan. Dengan indikator keberhasilan inilah orang bisa menghargai sebuah karya/usaha kita, bermanfaat atau tidak, bagus atau jelek dan lain sebagainya. Dan dengan indikator keberhasilan pulalah kita bisa berbenah kearah yang lebih baik dari sebelumnya, jika memang dalam pelaksanaannya masih ada hal yang perlu untuk diperbaruhi dan diperbaiki. Sebagai sebuah gambaran yang sederhana, yakni jika kita memiliki anak yang duduk dibangku SD, diakhir semester anak kita dinyatakan naik kelas/lulus oleh pihak sekolah, maka INDIKATOR kelulusan itu pasti dimiliki oleh pihak sekolah, sehingga tidak asal menentukan anak kita naik kelas atau tinggal kelas.Wal hasil hampir setiap aktivitas kita, baik itu sekolah, mengajar, bekerja dll sadar atau tidak pasti memiliki INDIKATOIR KEBERHASILAN atas aktivitas atau kinerja kita selama ini.

Pembaca yang budiman, lucunya apa yang saya paparkan diatas, yakni perluanya rencana terlebih lagi INDIKATOR kEBERHASILAN kebanyakan tidak berlaku di masjid kita hari ini. Banyak masjid kita hari ini rutinitasnya tidak melalui perencanaan yang matang, semua berjalan ala kadarnya. Jangankan INDIKATOR KEBERHASILAN perencanaan yang baik pun terkadang tak dimiliki masjid kita hari ini. Akhirnya, masjid dengan potensi yang besar tak menemukan kemajuannya kecuali hanya bangunan fisik semata, yang kebanyakkan dibangun atas dasar memenuhi ambisi bukan karena kebutuhan.

Lalu yang jadi pertanyaan kita yakni apa kira-kira INDIKATOR yang paling tepat untuk melihat berhasil atau tidaknya kepempiminan takmir masjid ditempat kita ? Menurut saya salah satu indikatornya selain indikator datang dan sholat ke masjid sebagaimana pada penjelasan tulisan saya sebelumnya yakni “berhasil atau tidaknya membangun generasi masjid dengan baik”

Ya, generasi muda itulah indikatornya, apa fungsinya masjid yang besar dan megah tapi tak memiliki aktivitas yang menarik bagi pemuda/i dan apa pula pentingnya kegiatan yang meriah sementara para pemudanya banyak yang nganggur dan berfoya-foya ? Akhirnya masjid-masjid kita hanya diisi oleh para orang tua, baik itu tenaga kebersihan, muadzin, imam rawatibnya bahkan ustadz/ah TPA/TPQ yang biasanya dikelola oleh para pemuda/i pun dikelola pula oleh para orang tua.

Semua itu terjadi karena tidak adanya generasi muda yang hadir sebagai pengerak di masjid. Padahal bisa jadi pemuda/i kampung banyak sekali jumlahnya, hanya saja yang siap jadi pengerak masjid seringkali sulit kita temukan. Yang jadi pertanyaan, kira-kira siapa yang salah ? Mungkin tidak pas jika kita hari ini mencari siapa yang benar dan salah atas gagalnya masjid membangun generasinya, sebab kondisi seperti ini hampir senjalar di seluruh masjid-masjid kaum muslimin, tidak hanya di pedesaan, kampung atau kota semua merasakan hal yang sama.

Padahal jika kita runtut perjalanan regenerasi masjid sudah dilakukan pada saat usia anak-anak, tapi jika telah tumbuh dewasa, maka generasi yang sedang tumbuh ini tak lagi hadir di masjid-masjid kita. Pembangunan generasi seharusnya lebih kita prioritaskan dari pada pembangunan fisik masjid. Sebab kegagalan membangun generasi memang seringkali tidak pernah dirasakan oleh masjid kita hari ini. Selain karena tak nampak kasat mata, pengaruhnya pun seringkali tak kita rasakan langsung, hal ini beda dengan membangun fisik masjid.

Untuk itu, sudah berhasilkah Ketua Takmir masjid anda dalam mengelola masjid yang diamanahkan selama in padanya ? Tentu hanya anda yang tahu …….Wallahu a’lam bishowab

Indikator keberhasilan adalah bagian yang terpenting dari seluruh rangkaian yang saya paparkan di atas. Dengan indikator keberhasilanlah orang bisa menghargai sebuah karya/usaha dan dengan indikator keberhasilan pulalah kita bisa berbenah kearah yang lebih baik dari sebelumnya.

Menurut saya indikator yang tepat yakni “berhasil atau tidaknya membangun generasi masjid dengan baik”

Info detail lainnya, silahkan kunjungi situs kami : www.baitulmaalmasjid.com

Oleh :  Ustadz Nashrullah Jumadi

Senin, 04 Maret 2019

Romy PPP Melobi UAS Untuk Tidak Pilih Prabowo Pada Pilpres 2019


INDONESIAOne.ID ■ Takut akan kalah dalam pilpres 2019 ini, pentolan kubu petahana M. Romahurmuziy yang saat ini sebagai Ketum PPP berusaha mendekati dan melobi UAS untuk netral dalam pilpres tahun ini, melalui anak buahnya yang ada di Riau Rusli Efendi, Romy mengatakan jika UAS tak mendukung Jokowi setidaknya ia (UAS) tak menunjukan keberpihakannya kepada Prabowo (Tempo.co/3-03-2019)

Ustadz Abdul Somad yang saat menduduki peringkat pendakwah yang paling banyak diminati dan di dengar fatwa-fatwanya menurut LSI-nya Denny JA. Mungkin karena alasan inilah Romy kalap dan berusaha agar UAS tak mendukun capres 02 pada Pemilu 2019 ini. Seandainya UAS memberikan dukungan kepada Prabowo Sandi tentu jutaan jamaahnya akan patuh dan ikut kepada pilhan UAS, dan ini adalah kekalahan telak bagi pasangan capres 01.

Suara masyarakat yang mengikuti imbauan UAS, mengungguli empat ulama populer lainnya, yakni Ust. Arifin Ilham, Yusuf Mansur, KH. Abdullah Gymnastiar, dan Habib Rizieq Shihab. Menurut Ikrama (LSI), Ust. Abdul Somad lebih didengarkan karena konten-konten dakwahnya.

Selain itu, popularitasnya juga melonjak karena ia pernah diajukan oleh kelompok ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto saat Ijtima Ulama yang pertama.

Inilah yang membuat UAS sering dipersepsikan lekat dengan Prabowo. Namun, ia menolak secara halus saat diusulkan menjadi cawapres mendampingi Prabowo ketika itu.

“Biarlah saya jadi suluh di tengah kelam, setetes embun di tengah sahara. Tak sungkan berbisik ke Habib Salim, tak segan bersalam ke Jenderal Prabowo,” tulis UAS pada akun Facebook-nya, Juli 2018.

Penulis : Riko Putra Al Hanafi


© Copyright 2017 INDONESIA One | All Right Reserved